Festival Seni Hindu Momentum Meredam Konflik

Diposkan oleh vera Dika on Sunday, November 11, 2012

 
TEMPO.CO, Yogyakarta- Menteri Agama Suryadharma Ali membuka Festival Nasional Seni Keagamaan Hindu di Puro Pakualaman Yogyakarta, Rabu malam 26 September 2012. Festival yang diikuti ribuan umat Hindu dari 16 provinsi ini dibuka dengan Kirab Budaya dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali dan berakhir di Puro Pakualaman. Suryadharma meminta pelaku seni memperhatikan satu prinsip dalam produksi karya seni. »Harus dilandasi nilai keagamaan agar tidak kebablasan, seperti film Innocence of Muslim yang malah menuai protes,” katanya.

Panitia peringatan, Ida Bagus Wika Khrisna, menuturkan festival ini dihadirkan untuk menginisiasi kesenian yang dimiliki umat Hindu. Wakil umat Hindu dari berbagai daerah akan mengikuti berbagai perlombaan seni keagamaan Hindu. Lomba itu antara lain musik tradisional berupa tabuh lalambatan, tari ritual berupa tari rejang atau tari baris, musik vokal instrumental (gegitaan), serta tari kreasi keagamaan dan tari topeng Sidakarya. Festival dipusatkan di Puro Pakualaman hingga 28 September 2012.

Suryadharma meminta festival ini dapat menjadi momentum untuk meredam konflik atas nama agama dan menguatkan kerukunan hidup antar-umat. »Dari Yogya, kami berharap melalui media seni budaya ini kerukunan antar-umat beragama semakin kuat," katanya.

Menurut dia, Yogyakarta masih dianggap sebagai barometer perkembangan toleransi di Indonesia di era keterbukaan informasi yang sering memicu konflik. Dia mengatakan Yogyakarta menjadi penerus berbagai peristiwa seni budaya yang mampu merekatkan kerukunan. Hal itu dapat dilihat dari pulihnya sejumlah daerah bekas konflik keagamaan di Indonesia dengan seni budaya.

Suryadharma mencontohkan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional di Ambon, Maluku, pada Mei lalu; Swayamvara Tripitaka Gatha Agama Buddha di Balikpapan, Kalimantan Timur; dan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional (Pesparawi) di Kendari, Sulawesi Tenggara, Juli lalu. »Tidak bisa dibayangkan bagaimana Ambon bisa menjadi tuan rumah MTQ karena pernah dilanda konflik yang membawa-bawa agama. Tapi, pelaksanaan tanpa kendala. Itu menunjukkan bahwa konflik itu sudah sirna,” ucapnya.

Sedangkan pelaksanaan Pesparawi di kendari, kata Suryadharma, kerukunan juga bisa terjalin dengan adanya kerja sama antar-umat, khususnya umat Islam yang mayoritas. »Di Sulawesi Tenggara, (umat) Islam 94 persen, Kristen 4 persen, lainnya 2 persen, tapi Pesparawi pun lancar. Panitia dari umat Islam juga banyak,” katanya.

Menurut dia, untuk mewujudkan kerukunan antar-umat beragama, perlu spirit besar tiap kepercayaan untuk saling memberikan ruang lewat berbagai bidang yang dapat menyatukan. »Seperti melalui seni dan budaya,” katanya lagi.

sumber:
http://id.berita.yahoo.com
TEMPO.CO

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment