Candi Jawi

Diposkan oleh kaka dika on Tuesday, January 8, 2013

Candi Jawi
Candi Jawi terletak di antara jalan kecamatan Pandaan menuju kecamatan Prigen, tepatnya terletak di desa Candiwates.

Cerita singkat Dibangun sekitar abad 13, Candi Jawi bukanlah merupakan tempat pemujaan atau tempat peribadatan. Candi ini merupakan tempat penyimpanan abu dari raja terakhir Singosari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singosari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat beribadat Kertanegara.

Sifat keagamaan dan arca-arca
Nagarakartagama pupuh 56 : 2 menyebutkan bahwa arca utama di dalam bilik candi adalah arca Ciwa, dengan tambahan keterangan bahwa ada arca Aksobya di atas mahkota-mahkota. Selama diadakan penyelidikan ternyata arca-arca yang ditemukan bersifat Saiwa. Arca-arca temuan tersebut ialah Nandiewara, Durga, Brahma, Ganesa, nandi ada juga fragmen 

Ardhanari. Diantara temuan-temuan itu tidak ada arca Aksobya. Prapanea sendiri menyatakan bahwa arca aksobya telah hilang dari candi Jawi pada tahun saka 1253.
Yoni

Sifat Keagamaan candi Jawi diterangkan oleh Prapanca bahwa candi Jawi mempunyai dua sifat keagamaan, bagian bawah bersifat Saiwa sedangkan bagian atas bersifat Buddha: cihneng candi risor kecaiwan apueak kaboddan i ruhur (Nag. 56 : 2 : 1 ). Percampuran dua agama antara agama Hindu dan Budha di Jawa Timur ketika itu memang sangat menonjol lebih-lebih pada jamannya Kertanagara. Sehingga setelah wafatnya terkenal dengan gelar bhatara sang kumah riciwa-buddha (Prasasti Gajah Mada, 1351 AD) atau sang lina ring ciwabud-dhalaya (prasasti gunung Butak). Pararaton menyebutkan Cri Ciwabuddha dan bhatara Ciwa-buddha.

Keunikan
Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di dinding. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Negarakertagama yang secara jelas menceritakan candi ini tidak menyinggung sama sekali soal relief tersebut. Berbeda dengan relief di Candi Jago dan Candi Penataran yang masih jelas. Salah satu fragmen yang ada pada dinding candi, menggambarkan sendiri keberadaan candi Jawi tersebut beserta beberapa bangunan lain disekitar candi. Nampak Jelas pada fragmen tersebut pada sisi timur dari candi terdapat candi perwara sebanyak tiga buah, namun sayang sekali kondisi ketiga perwara tersebut saat ini bisa dibilang rata dengan tanah. demikan juga di fragmen tersebut terlihat jelas bahwa terdapat candi bentar yang merupakan pintu gerbang candi, terletak sebelah barat. Sisa-sisa bangunan tersebut memang masih ada, namun bentuknya lebih mirip onggokan batu bata, karena memang gerbang candi tersebut dibangun dari  batu bata merah.
Relief

Disamping relief yang terletak dibagian dinding candi, terdapat pula relief lain yang terletak dibagian dalam candi. Terletak tepat dibagian tengah candi yang merupakan bagian tertinggi dari bagian dalam candi, terdapat sebuah relief Dewa Surya yang terpahat jelas. Keunikan lain dari Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Bisa jadi ada dua periode pembangunannya.

Memang, Negarakertagama menyebutkan bahwa candrasengkala atau tahun Api Memanah Hari (1253 Saka) candi itu disambar petir. Saat itulah arca Maha Aksobaya raib. Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk yang mengunjungi candi itu sampai bersedih atas hilangnya arca tersebut. Memang ditemukan arca Maha Aksobaya yang kini disimpan di Taman Apsari, depan Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, yang kemudian dikenal dengan Patung Jokodolog. Akan tetapi, arca ini bukan berasal dari Candi Jawi.

Setahun setelah disambar petir itu, dilakukan pembangunan kembali. Pada masa inilah diperkirakan menggunakan batu putih. Namun, dari mana batu putih tersebut? Karena, kawasan yang masuk kaki Gunung Welirang kebanyakan batu hitam. Batu putih banyak dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura.

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982.

Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca Siwa. Di atasnya terdapat Maha Aksobaya. Ada sejumlah arca bersifat Siwa, seperti Nandiswara, Durga, Ganesa, Nandi, dan Brahma.



{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment