Sejarah Aceh Darussalam

Diposkan oleh vera Dika on Saturday, November 3, 2012

Pengembangan wisata sejarah di Kabupaten Aceh Utara bisa dilakukan berbarengan dengan wisata alam. Hal ini didukung oleh beberapa tempat potensial sebagai objek wisata, baik untuk wisatawan lokal maupun luar. Seperti pesona air terjun di Blang Kolam misalnya.

Sungai-sungai tempat wisata seperti di Sawang dan Krueng Tuan, Kecamatan Nisam Antara adalah tempat wisata yang indah dan sempat sunyi ketika konflik bersenjata melanda Aceh. Kini pemerintah Aceh Utara bisa menghidupkannya lagi, tentu saja harus menyesuaikannya dengan syariat Islam.

Permasalahannya sekarang, bagaimana pengembangan pariwisata lokal itu tidak bertentangan dengan norma dan agama. Jika ingin menjalankan syariat pada ummat, bisa dengan mengembangkan pariwisata Islaminya, misalnya tempat rekreasi seperti Blang Kolam ditata rapi, semak belukar dirawat dan ditanami bunga, di antara celah-celah bukitnya dibangun musalla atau pustaka. Pemerintah bisa membangun tempat wisata yang Islami dan berbasis pendidikan. Tinggal buat larangan, daerah-daerah tertentu dilarang masuk.

Berpikir kreatif dan membangun sepantasnya digalakkan sejak kini untuk generasi agar damai terus berlangsung dan Islam dikenal sebagai agama yang santun. Aceh seanteronya adalah daratan yang indah, begitu pun Aceh Utara. Pemberian Tuhan ini harus dimanfaatkan sebaik dan secerdas mungkin.

Keindahan itu bisa ditemukan di antara 850 gampong, 2 kelurahan dan 56 buah mukim di Aceh Utara. Para penduduknya kini menunggu perubahan nasib yang pernah diimpikan. Kabupaten ini punya 780 buah gampong di kawasan dataran dan 72 gampong di kawasan berbukit dan dataran tinggi. Sebagian besar penduduknya adalah petani.

Visi pembangunan yang telah ditetapkan untuk masa lima tahun mendatang tidak bisa memperbaiki dekorasi wajah kabupaten ini sama seperti wilayah lain di Aceh dan Indonesia. Konsep pembangunan lima tahun sudah saatnya ditinggalkan.

A. Masjid Baiturrahim Ulee Lheu



Di Banda Aceh salah satu masjid yang bisa Anda kunjungi adalah Masjid Baiturrahim Ulee Lheu. Masjid ini terletak di kawasan objek wisata Pantai Cermin Ulee Lheue. Bila magrib menjelang, masjid ini selalu penuh oleh para wisatawan muslim yang ingin menunaikan salat magrib. Tak hanya wisatawan lokal tapi juga wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.


Masjid bersejarah ini peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.


Sejak berdirinya hingga sekarang masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya masjid dibangun dengan rekonstruksi seutuhnya terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana dan letaknya berada di samping lokasi masjid yang sekarang.


Karena terbuat dari kayu, bangunan masjid tidak bertahan lama karena lapuk sehingga harus dirobohkan. Pada 1922 masjid dibangun dengan material permanen oleh Pemerintah Hindia Belanda, tentunya dengan gaya arsitektur Eropa. Namun siapa sangka jika masjid ini harus mengulang kejadian tahun 1983 pada akhir Desember 2004 lalu. Terjangan tsunami yang begitu dahsyat meratakan seluruh bangunan di sekitar masjid.


Satu-satunya bangunan yang tersisa adalah Masjid Baiturrahim ini. Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar dua puluh persen saja tak heran jika masjid ini menjadi simbol kebesaran Yang Maha Kuasa, dan masyarakat Aceh sangat mengaguminya.


Imam Masjid Baiturrahim, Teungku Bukhari, usai salat Jumat siang tadi kepada the Atjeh Post mengatakan bahwa setelah direnovasi pada 1984 masjid bisa menampung sekitar 400 jamaah. Sekarang kapasitas masjid ini bisa menampung 1.500 jamaah.
“Semoga ke depannya semakin banyak jamaah yang meramaikan masjid ini. Kalau sekarang jamaahnya paling banyak bisa sekitar 400 orang, atau minimal sekitar 60 orang,” kata Teungku Bukhari, Jumat 18 Mei 2012.


Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, Reza Fahlevi yang ikut melaksanakan ibadah salat Jumat di masjid tersebut, mengatakan bahwa Masjid Baiturrahim termasuk salah satu masjid yang sering dikunjungi pada tamu dan turis.
“Kita ingin memberikan dukungan untuk salah satu objek yang mendukung wisata islami di Aceh. Di sini orang juga bisa melihat sisa-sisa tsunami,” kata Reza kepada The Atjeh Post.


Selain itu, kata Reza, Pemerintah Kota dan pengurus masjid akan mencoba menambah fasilitas ataupun pendukung bagi pengunjung seperti menyediakan papan informasi dan sebagainya.
Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an (yang baru selesai MTQ Telkom-Telkomsel Nasional), tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang, salah satu obyek wisata Islami.
                                  

Waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam.

B. Taman Sari Gunongan Aceh


Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kesultanan Johor dan Kesultanan Pahang yang ada di Semenanjung Malaka.

Putri cantik dari Pahang pun dibawa pulang, parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Walaupun nama asli beliau Putri Kamaliah, Rakyat Aceh sering memanggilnya Putri Pahang. Lama kelamaan permaisuri cantik ini akhirnya lebih terkenal dengan nama Putroe Phang.

Putroe Phang tidak hanya cantik, tapi beliau juga seorang wanita yang cerdas. Beliau adalah penasehat suaminya dalam pemerintahan. Seperti terlihat dalam semboyan berikut ini terkenal sekali dalam kehidupan bermasyarakat Rakyat Aceh.

- Adat bak Poteumeureuhom (adat dipegang oleh Sultan)

- Hukom bak Syiah Kuala (hukum dipegang oleh Syiah Kuala)

- Kanun bak Putroe (kanun dipegang oleh Putroe Phang

- Reusam bak Laksamana (reusam dipegang oleh Laksamana)

Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan ditempat asalnya terpenuhi. 


Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana.Gunongan adalah bagian dari suatu kompleks yang lebih luas, Taman Ghairah, yang merupakan bagian dari taman istana

. Di kompleks ini sekarang hanya tersisa empat buah bangunan; Gunongan itu sendiri, leusong (lesung yang terbuat dari batu) yang berada di kaki Gunongan, agak di bagian Tenggara; kandang sebuah bangunan empat persegi di bagian utara di arah timur laut sepanjang sungai Krueng Daroy, dan Pinto Khop na kurang pedas, katanya. tapi bagi yang kurang suka dengan pedas mie celor juga sudah cukup pedas.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment