Monumen Simpang Lima Gumul

Diposkan oleh vera Dika on Saturday, December 8, 2012


Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) adalah sebuah monumen yang menjadi ikon Kabupaten Kediri dan telah menjadi objek wisata baru bagi masyarakat Jawa Timur. Monumen itu terletak di persimpangan lima arah jalan utama di kabupaten Kediri. Arah barat ke Kota Kediri, selatan menuju ke Wates/Pesantren, arah timur ke Gurah, arah utara ke Pagu, dan arah timur laut ke Pare. SLG sengaja dibangun untuk dijadikan sentra bisnis dan perekonomian bagi Kabupaten Kediri. Daerah kawasan SLG sangat memungkinkan dijadikan bussiness district karena lokasinya yang strategis dan menghubungkan antara Kota Kediri dan kecamatan-kecamatan di Kabupaten Kediri.

Pembangunan SLG dimulai tahun 2003 yang digagas oleh bupati Kediri saat itu, bapak Sutrisno. Lokasinya terletak di desa Tugu Rejo, kecamatan Ngasem, Kediri. Masyarakat Kediri mempercayai SLG dibangun karena terispirasi oleh Raja Joyoboyo, raja Kerajaan Kadiri abad XII yang ingin menyatukan lima wilayah di kabupaten Kediri. Monumen SLG mempunyai luas 804 meter persegi dan tinggi bangunan sekitar 25 meter dengan ditumpu oleh tiga tangga setinggi 3 meter. Angka-angka itu mewakili tanggal, bulan, dan tahun berdirinya Kabupaten Kediri pada 25 Maret 804 M.
Sebagai monumen yang menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Kediri, bangunan ini mengadopsi bentuk L'Arch de Triomphe di Paris, Prancis. Mirip bahkan. Bangunan utama SLG berbentuk persegi menyerupai pintu gerbang dan dilengkapi relief-relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kediri. Selain itu juga dijumpai 4 patung dewa Ganesha di sisi-sisi sudutnya yang menjadi lambang kabupaten Kediri. SLG bertambah unik karena ada tiga terowongan terhubung di sisi-sisinya yang menjadi lintasan pejalan kaki menuju basement dari tempat parkir. Terowongan itu terletak tepat dibawah jalan raya simpang lima yang mengelilingi monumen. Isi Monumen SLG adalah ruangan-ruangan untuk pertemuan di gedung utama dan hall auditorium di lantai atas yang beratap mirip kubah (dome), ruang serba guna di basement, dan diorama. Selain tanpa dipungut biaya untuk memasuki kawasan ini, pemerintah Kediri juga menyediakan fasilitas hotspot secara gratis.

Di sisi jalan, terdapat pasar tugu yang menyediakan aneka kuliner khas Kediri, seperti penthol dan pecel tumpang. Setiap hari monumen SLG ramai dikunjungi warga. Tak sedikit warga luar kota dan kabupaten Kediri yang datang untuk melihat kemegahannya, sambil berfoto-foto ria atau hanya sekadar duduk bercengkerama bersama keluarga. Saat malam minggu banyak anak-anak muda dan pasangan kekasih yang menikmati suasana romantis di bawah sorotan lampu SLG.

Kawasan Simpang Lima Gumul telah menjadi magnet bagi warga sekitar dan wisatawan yang mengunjungi Kediri. Tak lengkap rasanya jika ke Kediri belum mampir dan menikmati malam di monumen SLG. Apalagi jika nanti pusat-pusat ekonomi di SLG telah berkembang, pasti semakin banyak orang yang datang dan menjadi pusat keramaian baru. Ya, pusat keramaian dan wisata yang tidak hanya di Jawa Timur, melainkan juga menjadi keunggulan bagi Indonesia.

TEMPO.CO, Kediri - Tidak hanya menduplikasi kemegahan bangunan Arc de Triomphe Paris, Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, juga menjadi tempat pendidikan tentang satwa. Para pecinta dan pelestari binatang membawa satwa mereka untuk berinteraksi dengan anak-anak di lokasi wisata tersebut.

 

Meski lokasi ini sudah sangat populer di kalangan pelancong, namun tak banyak yang mengetahui bahwa setiap Minggu pagi terdapat atraksi hewan-hewan langka di salah satu sudut halaman SLG.

Karena itu jangan kaget jika seekor ular phyton berukuran sangat besar dan panjang tiba-tiba merangkak di kaki Anda saat berjalan-jalan di lokasi SLG. Iguana pun kerap meloncat di tengah kerumunan pengunjung dengan wajahnya yang seram.

Hewan-hewan itu dilepas begitu saja di hamparan rumput yang menjadi tempat bermain anak-anak dan keluarga. »Kesannya memang menakutkan ketika seekor ular besar berjalan di tengah anak-anak,”
Keberadaan satwa-satwa tersebut sangat cocok dengan panorama SLG yang dikelilingi areal persawahan. Tak hanya mencecap keindahan alam, setiap pelancong bisa menguras lemak dengan berlari menyusuri jalanan SLG yang lebar dan ramah. Pemerintah daerah setempat memang melarang kendaraan melintasi areal tersebut setiap hari Minggu demi memberikan ruang publik yang nyaman.

Jika tak kuat mengayunkan kaki, deretan becak gowes siap mengantar mengelilingi SLG dengan tarif Rp 10.00 per jam. Becak dengan desain enam penumpang ini dikayuh sendiri oleh penumpangnya dengan dilengkapi dua as roda. Dan perjalanan akhir pekan ini makin tuntas dengan segelas es kelapa dan nasi ampok yang dijajakan di sekitar SLG.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment